Mesaba Festival 2025: Jalan Budaya Menjaga Air dan Masa Depan Subak

Gianyar, diaribali.com — Di tengah ancaman krisis ekologis, Puja Tirtha Buana: Mesaba Festival 2025 hadir sebagai ikhtiar kebudayaan untuk merawat bumi dan air—dua sumber utama kehidupan. Festival ini digelar di Pura Alas Harum, Desa Basangambu, Kecamatan Tampaksiring, Gianyar, pada 16–17 Desember 2025.
Mesaba Festival menjadi simpul akhir program Revitalisasi Sistem Pengetahuan Subak yang digagas Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XV. Melalui pagelaran budaya, festival ini merangkai ulang jejak sejarah Subak dengan tantangan aktual yang dihadapi petani dan lanskap air Bali hari ini.
Dalam Puja Tirtha Buana, air dimuliakan sebagai sumber penghidupan dan spiritualitas. Rangkaian ritual menyucikan jiwa serta benih yang ditanam di kawasan sumber mata air menjadi simbol kesinambungan peradaban Subak di masa depan.
Festival bertajuk “Karya Subak untuk Buana” ini merupakan diseminasi hasil revitalisasi Subak di lanskap DAS Pakerisan. Presentasi seni dan budaya dipilih sebagai medium untuk mengembalikan pengetahuan dan karya budaya kepada masyarakat pemiliknya, sekaligus memperluas partisipasi publik melalui kolaborasi lintas pihak.
Camat Tampaksiring I Wayan Eka Mulia Adi Putra mengapresiasi pemilihan wilayahnya sebagai lokasi Mesaba Festival 2025. Menurut dia, kawasan DAS Pakerisan merupakan laboratorium hidup peradaban Bali yang telah diakui UNESCO. “Subak bukan sekadar sistem pengatur air, tetapi juga penjaga sumber air melalui praktik penanaman dan perawatan alam,” ujarnya.
Kepala BPK Wilayah XV, Kuswanto, menjelaskan Mesaba Festival berlangsung selama dua hari. Kegiatan diawali dengan nunas tirta sebagai permohonan keharmonisan dan keselamatan, dilanjutkan penanaman benih secara serentak sebagai simbol keberlanjutan dan ketahanan pangan. “Ini upaya membuka kembali dan memperkuat Subak sebagai warisan adiluhung,” kata Kuswanto.
Ia menambahkan, DAS Pakerisan menyimpan jejak panjang peradaban Bali, termasuk temuan arkeologis dan prasasti kuno yang menegaskan pentingnya menghormati leluhur serta melanjutkan jejak kearifan yang telah diwariskan.
Sementara itu, Asisten I Setda Kabupaten Gianyar I Ketut Mudana yang mewakili Bupati Gianyar menilai Mesaba Festival 2025 sebagai pengingat kolektif bagi masyarakat, pelaku usaha, hingga pengembang untuk kembali menempatkan alam sebagai pusat perencanaan pembangunan.
“Pelestarian tidak cukup dengan seremoni. Harus ada langkah konkret melalui sinergi antara Balai Pelestarian Kebudayaan dan Pemerintah Kabupaten Gianyar,” ujarnya. Ia menegaskan, penguatan desa adat berbasis nilai kearifan lokal menjadi salah satu misi utama Pemkab Gianyar dalam menjaga keberlanjutan alam dan budaya Bali. (Art)