Melihat Lebih Dekat Sosok Mangku Pageh, Seniman Multitalenta Antiga

IMG-20251217-WA0136
I Nyoman Pageh

Denpasar,diaribali.com —
Halaman rumah di Jalan Tunjung Sari, Padangsambian, Denpasar, tak pernah benar-benar sunyi. Dari balik pagar, ratusan bonsai dan anggrek menyambut siapa pun yang datang. Ruang di teras sempit—hanya empat kursi tersisa—seolah menegaskan satu hal: rumah ini lebih dulu memberi tempat bagi karya, baru bagi tamu.

Di sanalah Jero Mangku Nyoman Pageh (59) menjalani hari-harinya. Gerimis, secangkir kopi manis, dan minuman khusus dalam guci peninggalan kolonial membuka obrolan, Senin (15/12/2025). Dengan kacamata yang sesekali dibenahi, Mangku Pageh mulai bercerita—tentang hidup yang ditempa alam, seni, dan laku pengabdian.

Bonsai-bonsai yang meluber hingga mulut gang itu bukan pajangan. Ia menggali sendiri bakalnya, naik bukit, menyusur sungai. Dunia perbonsaian menjadi salah satu sumber nafkah. “Kalau cocok harga, saya lepas. Saya juga terima perawatan bonsai ke rumah. Sudah puluhan tahun,” katanya, lugas.

Namun nama Mangku Pageh melesat jauh melampaui bonsai. Pria asal Desa Antiga, Karangasem, ini dikenal sebagai undagi perangkat ngaben—khususnya bade dan patulangan. Karya paling fenomenalnya: Bade Mas Tumpang Tujuh milik Pasemetonan Sira Arya Tangkas Kori Agung lan Arya Kuta Waringin. Tingginya lebih dari 30 meter, menantang langit pada ngaben gabungan 14 Agustus 2024 di Desa Adat Angantelu. Patulangan singa merahnya tak kalah menyedot perhatian.

Hari itu, ngaben menjelma atraksi budaya. Wisatawan mancanegara datang khusus, merekam prosesi dari jebag desa hingga setra. “Saya kerja tim. Tapi sketsa awal selalu saya buat manual,” ujarnya. Jejak digital karyanya kini mudah ditemukan—namun tanganlah yang mula-mula bekerja.

Ogoh-ogoh pun pernah ia taklukkan. Akhir 1990-an, bersama seniman desa, ia menciptakan patung raksasa bergerak dengan sistem mekanik—sesuatu yang terbilang maju pada masanya. Di luar itu, ia pemborong bangunan, pelukis kanvas, dan perupa relief. Seakan bakatnya berlapis.

Ada pula sisi lain yang tak ia gembar-gemborkan: usadha dan “nerang”. Orang datang berobat, meminta penerangan. Ia menolak disebut sakti. “Saya tidak pernah promosi. Mereka datang karena percaya. Saya hanya memohon kepada Ida Sesuhunan,” tegasnya. Lontar warisan leluhur ia pelajari, jejak keluarga pengobat kampung pun mengalir dalam ingatan.

Di zaman sains, Mangku Pageh tak menutup diri. Panca Dauh ia sandingkan dengan prakiraan BMKG. Dauh Brahma dan cuaca cerah, ia lebih tenang. Dauh Wisnu, kerja diperketat. “Bukan menghentikan hujan. Kita mohon agar alam berkenan memindahkan,” katanya, hati-hati.

Masa kecilnya jauh dari sosok teladan. Bandel, sering bolos, pura-pura berkeringat demi mengecoh bibi yang mengasuhnya. Dipindah sekolah, tak banyak berubah. Aneh tapi nyata: tanpa belajar keras, nilainya kerap melampaui teman-teman. Bakat alam itu mengantarnya lolos sekolah calon guru di Denpasar. Dua tahun mengabdi, ia memilih jalan lain.

Ada satu peristiwa yang tak pernah ia lupakan. Saat SMP, pemilihan pemangku di pura dadia dilakukan secara nyanjan. Nama Pageh terpilih. Ia lari, menolak, bahkan berteriak lebih baik mati daripada memikul tugas seberat itu. Bertahun-tahun kemudian, ia luluh. Menikah, ia menyanggupi ngayah sebagai pemangku—takdir yang semula ditolak, akhirnya dipeluk.

Kini, Mangku Pageh hidup sederhana bersama istri. Putri semata wayangnya ditempa hingga jenjang doktoral—masih berproses. “Warisan terbaik itu pendidikan,” katanya pelan.

Di teras sempit yang dipenuhi karya, hidup Mangku Pageh tampak utuh: seni yang membumi, laku yang hening, dan pengabdian yang dijalani tanpa banyak kata. (Art)