ITB STIKOM Bali Kirim Mahasiswa Magang ke Jepang

IMG-20260107-WA0147
Pelepasan Mahasiswa ITB STIKOM Bali Magang ke Jepang.

Denpasar,diaribali.com —
ITB STIKOM Bali kembali mengirim mahasiswanya menembus batas negeri. Rabu (7/1/2026), Rektor ITB STIKOM Bali Dr. Dadang Hermawan melepas tiga mahasiswa peserta program kuliah sambil magang ke Jepang. Pelepasan ditandai secara simbolis dengan penyerahan tiket pesawat—sekaligus penanda dimulainya perjalanan akademik dan profesional lintas negara.
Acara pelepasan berlangsung hangat. Hadir Ketua Yayasan Widya Dharma Shanti Drs. Ida Bagus Dharmadiaksa, M.Si, jajaran wakil rektor, pejabat struktural, serta keluarga para mahasiswa. Ketiganya—Ni Kadek Anita Setyari, Tarololus Danrianus Tupon Lanan, dan Ni Made Ratih Purwasih—tampak didampingi orangtua, melepas anak-anak mereka menuju pengalaman baru.
Dalam sambutannya, Dadang Hermawan mengangkat persoalan klasik pendidikan tinggi di Indonesia. Angka Partisipasi Kasar (APK) perguruan tinggi, kata dia, baru menyentuh kisaran 36 persen. Penyebab utamanya tak berubah: persoalan finansial.
“Untuk bisa kuliah harus sejahtera. Tapi untuk bisa sejahtera, harus kuliah. Kita sering terjebak dalam dilema ayam dan telur,” ujarnya lugas.
Tak ingin terjebak dalam lingkaran itu, ITB STIKOM Bali menawarkan beragam solusi. Mulai dari KIP Kuliah yang didukung pemerintah pusat, program Satu Keluarga Satu Sarjana dari Pemprov Bali, hingga beasiswa yayasan dengan skema bantuan 30 persen, 50 persen, bahkan 100 persen.
Namun, satu solusi dinilai paling komprehensif: kuliah sambil magang kerja ke luar negeri.
Menurut Dadang, program ini memberi paket lengkap bagi mahasiswa. “Mereka dapat gelar sarjana atau diploma, pengalaman kerja internasional, bekal uang, kemampuan bahasa asing, jaringan global, dan yang paling penting: mindset,” katanya. Program tersebut, lanjut dia, telah dirintis sejak awal dan kini sudah memberangkatkan ratusan mahasiswa ke berbagai negara.
Ia menilai skema ini ideal untuk mendorong kesejahteraan masyarakat Bali. Tantangannya, kata Dadang, bukan hanya soal biaya, tetapi juga minimnya informasi. “Solusi ini belum banyak diketahui masyarakat. Di sinilah peran media sangat kami harapkan,” ujarnya.
Soal minat studi, Dadang mencatat pergeseran signifikan. Program Studi Bisnis Digital kini melaju cepat, melampaui Sistem Komputer dan Teknologi Informasi. “Zamannya memang IT,” katanya singkat.
Adapun kendala lain datang dari faktor psikologis orangtua yang enggan melepas anak ke luar negeri. Menanggapi itu, Dadang berpesan ringan namun tajam, “Jangan minta izin, tapi minta doa dan restu.”
Menurutnya, dunia kini semakin terbuka. Komunikasi lintas negara tak lagi menjadi penghalang. Bahkan pemerintah pusat pun mendorong pengiriman generasi muda ke luar negeri. “Dengan dana Rp 10 triliun, berapa banyak anak SMK yang bisa diberangkatkan?” ujarnya.
Ia menutup dengan catatan optimistis. “ITB STIKOM Bali, meski tanpa bantuan apa pun, sudah mengirim ratusan mahasiswa ke luar negeri. Ini bukti bahwa jalan itu ada—tinggal berani melangkah,” tutup Dadang. (Art)