Galungan dan Kuningan di Persimpangan: Gengsi atau Kecermatan?

IMG-20251128-WA0064
Penjor Salah satu sarana upacara saat Hari raya Galungan dan Kuningan yang dibuat Megah..

Galungan dan Kuningan kembali dirayakan umat Hindu dengan sukacita. Namun di balik kesemarakan, muncul kegelisahan lama: biaya yang kian membengkak. Penyuluh Agama Hindu Kementerian Agama Kabupaten Buleleng, I Kadek Satria, mengingatkan bahwa esensi yadnya bukan pada kemewahan, melainkan pada kesucian dan kecermatan.

Menurut Satria, yadnya sejatinya adalah persembahan suci yang berdasar pada kitab suci, dilaksanakan oleh orang suci, menggunakan sarana suci, serta ditujukan pada momen yang suci. “Landasan kesucian ini kini mulai bergeser. Yadnya kerap dipandang sebagai rutinitas atau ‘korban’ yang harus ditunaikan, bukan lagi sebagai laku spiritual yang menguatkan sradha dan bhakti,” ujarnya.

Perubahan makna itu, lanjutnya, membuat sebagian umat menilai bahwa yadnya kini terasa berat dan mahal. Padahal, persoalannya bukan pada besarnya biaya, melainkan hilangnya pemahaman terhadap esensi yadnya sebagai penyangga keseimbangan alam. “Ketika yadnya hanya menjadi rutinitas, hasilnya tidak mengena. Vibrasi kesucian yang semestinya memperkuat hubungan manusia dengan alam justru melemah,” katanya.

Satria menekankan pentingnya membedakan antara cermat dan hemat. Hemat sering menyiratkan ketidakikhlasan, sedangkan cermat berarti memahami batas kemampuan diri tanpa meninggalkan tujuan yadnya. “Masalah muncul ketika yadnya diarahkan oleh keinginan tampil mewah dan rajasika. Semakin jauh dari keikhlasan, semakin jauh pula kita dari makna kesucian,” ujarnya.

Ia mengingatkan bahwa kitab suci secara berulang menegaskan yadnya sebagai laku kesadaran. Ketulusan dinilai lebih utama daripada meniru persembahan orang lain yang lebih mampu secara ekonomi. Dari sini, umat dapat melakukan langkah sederhana namun bermakna pada Galungan dan Kuningan.

Pertama, menggunakan buah lokal atau hasil alam yang tersedia secukupnya, karena satu jenis buah saja sudah dianggap sah menurut ketentuan sastra. Kedua, menyusun penjor upakara dengan biji-bijian, pala bungkah, dan buah secukupnya—tanpa perlu dekorasi berlebihan. Ketiga, menekankan laku tapa brata selama rangkaian hari suci, mulai dari Sugihan Jawa dan Sugihan Bali, penyekeban, penyajaan, hingga pengendalian diri pada Penampahan Galungan.

“Jika pondasi ini dilaksanakan, maka penjor sebagai simbol kemenangan akan benar-benar bermakna,” kata Satria.

Ia menegaskan bahwa Galungan adalah momentum merayakan kemenangan dharma atas adharma, namun kemenangan itu baru terwujud bila umat mampu menjalankan agama secara bajik dalam keseharian. “Kurangi beryadnya karena alasan pamer. Itu justru mencederai yadnya sebagai sumber kelimpahan,” ujarnya.

Satria menutup pesannya dengan ajakan sederhana namun kuat: “Galungan adalah kemenangan jika kita menang setiap hari atas diri sendiri.”