Dewa Indra: Bali Bebas Alkes Mengandung Merkuri

Penarikan alkes bermerkuri wilayah Bali dan NTB oleh Direktorat Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah, dan Bahan Berbahaya dan Beracun (Dirjen PSLB3) Kementerian LHK RI di Taman Hutan Rakyat Mangrove, Bali, Kamis (27/6).
Bagikan

DENPASAR, diaribali.com – Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Bali Dewa Made Indra bersyukur karena alat kesehatan (alkes) bermerkuri sudah seluruhnya ditarik dari Fasilitas Pelayanan Kesehatan (Fasyankes) di wilayah Bali.

Penegasan itu diutarakannya dalam sambutan saat menghadiri dan menyaksikan penarikan alkes bermerkuri wilayah Bali dan NTB oleh Direktorat Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah, dan Bahan Berbahaya dan Beracun (Dirjen PSLB3) Kementerian LHK RI di Taman Hutan Rakyat Mangrove, By Pass Ngurah Rai, Kamis (27/6).

Informasi terkait tuntasnya penarikan alkes bermerkuri di wilayah Bali disampaikan Dewa Indra setelah melakukan konfirmasi ke Dinas Kesehatan.
“Setelah saya cek ke Dinas Kesehatan, sudah tak ada lagi alkes bermerkuri pada fasilitasi pelayanan kesehatan di seluruh Bali, sudah tuntas ditarik,” ujarnya.

Dewa Indra menyampaikan terima kasih dan penghargaan kepada jajaran Dirjen PSLB3 atas keseriusan dalam melakukan penarikan alkes bermerkuri, khususnya di wilayah Bali dan NTB.

Ia sangat memahami, upaya penarikan alkes bermerkuri bukanlah hal yang sederhana karena berkaitan dengan tempat pembuangan akhir serta pengolahannya.

“Pengelola fasilitas pelayanan kesehatan tahu bahwa alkes yang mengandung bahan merkuri tak boleh digunakan, tapi untuk membuangnya mereka juga tak boleh sembarangan sehingga akhirnya disimpan selama bertahun-tahun,” urainya.

Menurutnya, situasi itu kemudian menjadi beban bagi pengelola Fasyankes. Di lain pihak, kementerian terkait juga memerlukan waktu untuk menarik produk tersebut karena harus berkoordinasi dengan berbagai pihak.

Dia juga mengapresiasi kebijakan penarikan alkes bermerkuri karena senyawa kimia ini dapat menimbulkan masalah serius bagi lingkungan dan kesehatan masyarakat.

Sementara itu, Direktur Pengelolaan Bahan Berbahaya dan Beracun KLHK Ari Sugasri dalam sambutannya menyampaikan bahwa penarikan alkes bermerkuri adalah amanat dari Perpres RI No. 21/2019 tentang Pengurangan dan Penghapusan Merkuri yang diturunkan dalam Peraturan Kementerian LHK Nomor 27 Tahun 2020 Tentang Pengolahan Alkes Berbahan Merkuri dan ditargetkan tuntas pada 31 Desember 2025.

Alkes bermerkuri yang ditarik meliput jenis termometer, tensimeter dan dental amalgam. “Langkah ini juga didukung Kementerian Kesehatan dengan mengeluarkan Peraturan Nomor 41 Tahun 2029 Tentang Penghapusan dan Penarikan Alkes Bermerkuri di Fasyankes,” tambahnya.

Kemenkes RI menargetkan 100 persen Fasyankes tak lagi menggunakan alkes bermerkuri pada tahun 2024 dan menurutnya saat ini sudah berhasil dicapai. “Sekarang tinggal menyelesaikan penarikannya,” cetusnya.

“Kami telah berhasil menarik dan menghapus 61.140 unit alkes bermerkuri dengan berat mencapai 53,6 ton,” ungkapnya. Sedangkan dalam kegiatan kali ini, KLHK menarik alkes dari 54 Fasyankes di 5 kabupaten dan dua kota dengan berat mencapai 800 kg dari kawasan NTB.

Khusus wilayah Bali, alkes bermerkuri berasal dari 135 Fasyankes di 9 kabupaten/kota dengan berat mencapai 2,59 ton. Alkes bermerkuri dari wilayah Bali dan NTB selanjutnya dilepas menuju tempat pengelolaan akhir yang berlokasi di wilayah Jawa.

Direktur Jenderal Pengelolaan Limbah, Sampah dan Bahan Beracun Berbahaya KLHK Rosa Vivien Ratnawati dalam sambutannya mengapresiasi Bali yang sudah menuntaskan penarikan alkes bermerkuri dari seluruh Fasyankes.

Menurutnya, upaya penarikan alkes bermerkuri bukanlah hal sederhana karena membutuhkan proses yang cukup kompleks. Ia berpendapat, untuk jangka panjang Indonesia membutuhkan tempat khusus untuk pengolahan merkuri. Zor