Brata Siwaratri: Jalan Sunyi Menuju Siwa

IMG-20260117-WA0021
IK.Satria

Hari ini umat Hindu melaksanakan Hari Suci Siwaratri, hari pemujaan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam manifestasinya sebagai Dewa Siwa. Dalam konsep Tri Murti, Siwa berperan sebagai pralina—kekuatan yang melebur, mengembalikan segala ciptaan menuju asalnya. Karena itulah, Siwaratri menjadi perayaan suci yang sangat dimuliakan, khususnya oleh umat Hindu di Bali.

Siwaratri tidak hanya dipahami sebagai ritual tahunan, tetapi sebagai jalan penyadaran diri. Banyak umat bertanya: mengapa Brata Siwaratri begitu agung hingga mampu mengantarkan seorang Lubdaka—tokoh dalam Siwaratrikalpa—mencapai tujuan tertinggi, menyatu dengan alam Siwa? Jawabannya terletak pada hakikat brata itu sendiri.

Keagungan Brata Siwaratri ditegaskan dalam berbagai susastra Hindu. Dalam Siwa Purana (Jnana Samhita), diceritakan dialog seorang Rsi dengan bhakta bernama Suta, yang mengisahkan Rurudruha—manusia dengan kehidupan yang sangat kelam—namun akhirnya mencapai pembebasan dan Siwaloka melalui Brata Siwaratri.

Kisah serupa juga ditemukan dalam Skanda Purana, melalui dialog antara murid bernama Lomasa dan para Rsi, tentang Canda—tokoh yang kejam dan penuh dosa—namun memperoleh penyadaran dan mencapai alam Siwa.
Dalam Garuda Purana, Dewi Parwati bertanya kepada Dewa Siwa tentang brata paling utama untuk melebur dosa, dan jawaban beliau tegas: Brata Siwaratri.

Sementara dalam Padma Purana, Raja Dilipa berdiskusi dengan Rsi Wasistha mengenai Nisada, seorang pemburu, yang akhirnya mencapai pembebasan melalui brata ini.

Keseluruhan teks suci tersebut menegaskan satu hal: Brata Siwaratri adalah sarana peleburan karma dan jalan menuju kesadaran Siwa, bukan karena latar belakang seseorang, melainkan karena ketulusan dan kesadaran batinnya.

Brata Siwaratri dijalankan melalui tiga laku utama:

Jagra: tidak tidur, sebagai simbol kewaspadaan batin
Upawasa: berpuasa, sebagai pengendalian indria
Monobrata: perenungan dan meditasi, sebagai pemurnian pikiran
Ketiganya hanya bernilai utama bila dilakukan dengan kesungguhan, bukan sekadar kemampuan fisik.

Siwaratri dilaksanakan pada Purwanining Tilem Kepitu, malam tergelap dalam satu siklus tahun. Pertanyaannya: mengapa justru dalam kegelapan kita mencari pencerahan? Karena kegelapan batin (awidya) hanya dapat disingkirkan oleh terang pengetahuan (vidya).

Malam tergelap adalah simbol kondisi batin manusia yang paling membutuhkan cahaya.
Siwa hadir sebagai penganugerah kecemerlangan pikiran. Pada malam suci inilah, ketika dunia sunyi dan gelap, manusia diajak masuk ke dalam dirinya sendiri—menemukan penyadaran sejati (Atutur Ikang Atma Rijatinnya).
Maka, lakukanlah Brata Siwaratri dengan ketulusan hati, bukan sekadar formalitas. Sebab tujuan sejatinya bukan hanya melebur dosa, tetapi membangkitkan kesadaran. Kesadaran bahwa kita adalah manusia yang harus bekerja, ciptaan yang wajib memuja, dan jiwa yang patut bersyukur.

Bila kesadaran itu hadir setiap hari, maka sesungguhnya Siwaratri tidak hanya dirayakan setahun sekali, tetapi dialami setiap saat.
Rahajeng Nyanggra Rahinan Suci Siwaratri.

Oleh: IK. Satria