BPR Kanti dan Tarung Panjang Industri Keuangan 2026

Gianyar, diaribali.com —
Menjelang pergantian tahun, BPR Kanti menandai usia ke-36 dengan langkah yang tidak sekadar seremonial. Melalui Seminar Nasional Indonesia Economic Outlook 2026 bertema “Penguatan Peran Lembaga Keuangan dalam Mendorong Pertumbuhan Ekonomi Nasional”, Senin (8/12), BPR Kanti kembali menempatkan diri sebagai BPR yang aktif membangun ruang dialog ekonomi—sebuah peran yang jarang dimainkan lembaga sejenis.
Seminar menghadirkan para tokoh lintas otoritas dan industri: Dirut PT LRT Jakarta yang juga mantan Kepala OJK Jabotabek–Banten Roberto Akyuwen, mantan Kepala BI Bali–Nusra sekaligus praktisi BPR Viraguna Bagoes Oka, CEO LSP Microfinance Indonesia Bakri, dan Dirut Jaringan BPR Nusantara Franky Suhendra.
Diskusi dipandu Regional Chief Economist BNI Wilayah 8 sekaligus Dekan FEB Undiknas, Prof. IB Raka Suardana.
Direktur Utama BPR Kanti Made Arya Amitaba menilai sektor keuangan memiliki peran fundamental dalam pertumbuhan ekonomi, tetapi belum masuk prioritas kebijakan pemerintah.
“Lembaga keuangan berada di urutan keenam sektor prioritas. Padahal kontribusinya jelas menopang roda ekonomi,” ujarnya.
Meski demikian, ia menegaskan BPR Kanti memilih tetap melangkah dengan optimisme. Seminar nasional ini disebutnya sebagai ruang membaca sinyal ekonomi nasional maupun regional, sekaligus memperkuat kepercayaan diri pelaku industri.
“Kita tetap optimistis bahwa BPR adalah alat penggerak perekonomian,” katanya.
Amitaba mengakui tantangan BPR kini jauh lebih kompleks dibanding masa kelahirannya. BPR berdiri sebagai alternatif lembaga keuangan agar masyarakat tak terjebak rentenir. Namun hari ini, serbuan pinjaman online menjadi kompetitor agresif yang menggerus segmen BPR.
“Pinjol menjadi tantangan baru dan tidak bisa diabaikan,” ucapnya.
Ia menyinggung kembali pengalaman pahit krisis 1997/1998, ketika tidak ada lembaga penyangga bagi BPR. Karena itu, program Apex Bank dinilai sangat penting untuk diteruskan, dengan Jaringan BPR Nusantara menjadi penerus tongkat estafet penguatan industri.
Roberto Akyuwen menilai tantangan masa depan BPR tidak hanya soal regulasi. Kepercayaan publik, tata kelola, transformasi digital, hingga keharusan memperluas jejaring kerja sama akan menjadi penentu daya saing.
“Networking perlu diperbanyak. Kolaborasi adalah syarat penting agar BPR tetap relevan,” katanya.
Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga inflasi sebagai bagian dari dinamika pertumbuhan ekonomi.
Viraguna Bagoes Oka menekankan perlunya keberpihakan pemerintah, khususnya dalam menjaga peluang pemulihan Bali pada 2026. Ia mendorong OJK memperpanjang relaksasi capital charge perbankan di Bali hingga 2028, mengingat dampak lanjutan pandemi masih terasa bagi dunia usaha.
“Relaksasi ini menjadi ruang bergerak yang sangat dibutuhkan,” ujarnya.
Dengan seminar ini, BPR Kanti tidak hanya merayakan usia 36 tahun, tetapi juga membaca arah perubahan industri keuangan dari sudut pandang daerah. Dari pinggir kota, BPR Kanti mengirim sinyal bahwa industri keuangan skala mikro tetap memiliki posisi strategis dalam percaturan ekonomi nasional. (Art)