IMG-20260204-WA0106
Bawaslu Bali saat menyapa Komunitas Seni sebagai Pemilih.

Bangli,diaribali.com—

Upaya konsolidasi demokrasi tidak melulu digelar di ruang rapat atau forum formal antar lembaga. Di tengah tantangan kualitas pemilu yang kian kompleks, Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Bali memilih mendekat ke ruang-ruang kultural, menyapa pemilih secara langsung melalui komunitas seni.
Anggota Bawaslu Bali, Gede Sutrawan, hadir di tengah kelompok seni masyarakat Banjar Undisan, Desa Temuku, Kabupaten Bangli, Rabu (4/2/2026). Kehadiran ini menjadi bagian dari strategi konsolidasi demokrasi berbasis komunitas, dengan menempatkan warga sebagai subjek utama penjaga demokrasi, bukan sekadar objek sosialisasi.
Sutrawan menegaskan, demokrasi pada hakikatnya adalah milik rakyat. Karena itu, tanggung jawab menjaga kualitas demokrasi tidak berhenti di bilik suara. Partisipasi publik justru harus berlanjut setelah pemungutan suara usai.
“Partisipasi warga jangan berhenti sebatas memilih. Rakyat juga perlu mengawal hasil pilihannya, mengevaluasi kinerja pejabat terpilih, lalu menentukan sikap pada pemilu berikutnya—apakah memilih kembali, memilih yang lain, atau bahkan menyiapkan diri untuk maju sebagai calon,” kata Sutrawan.
Ia menekankan, pemilihan langsung merupakan fondasi penting demokrasi Indonesia karena membuka ruang kesetaraan bagi seluruh warga negara. Demokrasi, menurutnya, tidak boleh dimonopoli oleh segelintir elite, sebab setiap warga memiliki peluang yang sama untuk memilih dan dipilih.
Dalam dialog tersebut, Sutrawan juga menyinggung persoalan klasik yang terus membayangi pemilu, yakni politik uang. Ia mengingatkan pemilih agar tidak menjadikan praktik tersebut sebagai dasar menentukan pilihan.
“Politik uang justru harus dibaca sebagai tanda bahaya. Jika seseorang berani membeli suara, ada pertaruhan besar terhadap masa depan kebijakan dan kepentingan publik ketika yang bersangkutan terpilih,” ujarnya.
Bagi Bawaslu Bali, menyasar komunitas seni dan ruang budaya dinilai strategis. Ruang-ruang ini memiliki kedekatan emosional dengan warga serta daya jangkau kuat untuk membangun kesadaran kolektif, sekaligus memperluas pengawasan partisipatif sebagai pilar pemilu berintegritas.
Menutup kegiatan, Sutrawan mengingatkan warga agar tidak lelah menggunakan hak pilih. “Memilih adalah hak sekaligus kesempatan yang datang lima tahun sekali. Gunakan untuk menentukan siapa yang layak menerima mandat rakyat,” katanya. (Art)