Arak Bali, Perjuangan yang Berbuah

IMG-20260130-WA0053
Gubernur Bali Wayan Koster (kanan) toss arak saat Peringatan Hari Arak.

Badung,diaribali.com —
Arak Bali resmi menanggalkan statusnya sebagai produk abu-abu hukum. Peringatan Hari Arak Bali ke-6 Tahun 2026 yang dibuka Gubernur Bali Wayan Koster menjadi penanda perubahan besar: minuman tradisional ini kini berdiri sebagai produk budaya yang sah, terkelola, dan bernilai ekonomi.
Transformasi itu berakar pada Peraturan Gubernur Bali Nomor 1 Tahun 2020 tentang tata kelola minuman fermentasi dan destilasi khas Bali. Regulasi ini memutus stigma lama arak sebagai barang terlarang, sekaligus memberi kepastian hukum dari produksi, mutu, hingga distribusi arak, brem, dan tuak Bali.
Koster mengingatkan, perjuangan ini lahir dari aspirasi perajin kecil yang selama bertahun-tahun terhimpit aturan. Arak Bali populer, tetapi produsen lokal justru hidup dalam ketakutan hukum akibat kebijakan nasional yang menempatkan minuman tradisional dalam daftar negatif investasi.
Langkah Bali tak berhenti di level daerah. Koster mendorong perubahan kebijakan hingga ke pusat. Hasilnya, Peraturan Presiden Nomor 10 Tahun 2021 membuka jalan legal bagi Arak Bali sebagai usaha yang sah dan terbuka dikembangkan, bahkan dalam skala industri.
Hasilnya mulai terlihat. Saat ini, 58 merek Arak Bali tumbuh dan tampil di ruang-ruang resmi seperti Pesta Kesenian Bali. Arak tak lagi sembunyi-sembunyi, melainkan diposisikan sebagai identitas budaya sekaligus komoditas ekonomi.
Pemerintah pusat pun ikut masuk. Kementerian Perindustrian menyerahkan izin produksi kepada Pemerintah Provinsi Bali untuk dikelola secara profesional melalui koperasi, melibatkan lebih dari 1.400 petani dan perajin. Fokusnya pada standar mutu, kemasan, dan pemasaran agar Arak Bali benar-benar berdaya saing.
Meski demikian, Koster mengingatkan pekerjaan belum sepenuhnya selesai. Ketergantungan bahan kemasan impor, pita cukai, dan perlindungan HAKI masih menjadi catatan. “Hari Arak Bali bukan ajang mabuk-mabukan, tapi momentum kedaulatan produk lokal,” tegasnya. Arak Bali kini naik kelas—tantangannya adalah menjaga arah agar tidak kehilangan akar budayanya. (Art)