Asta Kosala Kosali di Persimpangan Zaman

Denpasar,diaribali.com-
Pesatnya perkembangan kota di Bali berbanding lurus dengan semakin menyempitnya lahan hunian. Kondisi ini menempatkan Asta Kosala Kosali pada persimpangan antara pelestarian nilai dan tuntutan modernitas.
Situasi tersebut menjadi pokok bahasan dalam seminar Transformasi Asta Kosala Kosali di Masa Kekinian yang digelar di Denpasar, Jumat (23/1/2026). Forum ini mempertemukan akademisi, praktisi, budayawan, dan pembuat kebijakan.
Seminar menyoroti kenyataan bahwa penerapan Asta Kosala Kosali kerap terhambat oleh keterbatasan ruang, terutama di wilayah perkotaan. Pakem tradisional dinilai sulit diterapkan secara utuh dalam konteks hunian modern.
Akademisi Universitas Udayana I Nyoman Susanta menegaskan, tantangan tersebut tidak bisa dijawab dengan pendekatan kaku. Menurut dia, perubahan fungsi bangunan, keterbatasan material, dan anggaran menuntut adaptasi yang rasional.
Ia menekankan bahwa transformasi harus bertumpu pada pemahaman filosofis, bukan sekadar bentuk fisik. Substansi nilai kosmologis tetap bisa hadir meski diterapkan secara selektif di lahan terbatas.
Susanta mencontohkan, pekarangan sempit sekalipun masih dapat mengadopsi prinsip Asta Kosala Kosali pada bagian-bagian tertentu. Kuncinya terletak pada ketepatan tafsir dan penerapan.
Pembina Yayasan Taman Bukit Pengajaran Pasraman Ghanta Yoga, Ida Pedanda Putu Dwija Ghanta Mandara, menilai pemahaman publik menjadi faktor krusial. Tanpa itu, harmoni antara manusia, ruang, dan alam sulit terwujud.
Dari sisi kebijakan, Anggota DPD RI Ida Bagus Rai Dharmawijaya Mantra menempatkan Asta Kosala Kosali sebagai bagian penting pemajuan kebudayaan. Ia menyebutnya selaras dengan upaya menjaga “jiwa” kebudayaan Nusantara.
Namun, ia mengingatkan adanya jebakan modernisasi yang berpotensi mengikis identitas budaya. Transformasi tanpa kesiapan sosial dan institusional justru dapat menghilangkan daya saing budaya Bali.
Melalui diskursus kritis semacam ini, Asta Kosala Kosali diharapkan tidak berhenti sebagai warisan simbolik. Tradisi tersebut dituntut tetap hidup, adaptif, dan relevan di tengah tekanan perubahan zaman. (Art)