Pemerintah Tidak Mau Rakyatnya Menderita Penyakit

A.A. Kusumajaya

DENPASAR-DiariBali
Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat di Pulau Jawa dan Bali sejak 3 hingga 20 Juli mendatang menimbulkan pro-kontra di Pulau Dewata. Tak sedikit masyarakat Bali merasa kecewa karena roda perekonomian yang baru saja menggeliat, kini harus terganggu lagi akibat pembatasan.

Menanggapi situasi ini, akademisi dari Politeknik Kemenkes Denpasar (Polkesden) AA Ngurah Kusumajaya angkat bicara. Menurutnya, jika ditimbang secara luas, sejatinya kebijakan PPKM Darurat ini adalah wujud cinta pemerintah kepada rakyatnya. “Artinya pemerintah tidak mau rakyatnya menderita karena penyakit. Ini upaya perlindungan, kalau dipikir lebih luas,” ujar Kusumajaya, di Denpasar, Rabu (7/7).

Kata Kusumajaya, kalangan pelaku pariwisata terlanjur menelan rencana pembukaan pariwisata Bali Juli 2021 ini juga menuding pemerintah memberikan harapan palsu. Keluhan juga dilontarkan para pengusaha makanan yang harus menutup usahanya maksimal pukul 20.00 dan tidak melayani makan di tempat.

Kusumajaya melanjutkan, Bali yang notabene destinasi pariwisata dunia, jelas menjadi incaran para wisatawan, baik domestik maupun mancanegara. Apalagi sejak pandemi Covid-19 menerjang, harga sewa hotel di Bali sangat murah. Dengan demikian, wisatawan domestik akan berbondong-bondong datang ke Bali dengan memanfaatkan “harga promo tersebut alias aji mumpung”.

Sementara tidak ada jaminan bahwa orang-orang yang datang ke Bali sebagai wisatawan adalah orang yang sehat semua. Sehingga menurutnya, PPKM Darurat sudah sangat tepat diberlakukan.

“Pemerintah pasti telah mengkaji secara matang. Meski pun di Bali masuk zona oranye, tapi daerah terdekatnya (Jawa) banyak zona merahnya, ya harus dicegah dengan kebijakan. Mohon bersabar hingga 20 Juli,” jelasnya.

Kusumajaya yang juga Direktur Polkesden ini tak menampik sebagian besar masyarakat Bali yang memang bergantung dari sektor pariwisata merasakan pukulan telak, bahkan untuk makan saja ada yang kesusahan. Ia meyakini pemerintah pasti telah merancang skema bantuan untuk rakatnya sendiri.

Terkait vaksinasi dan penerapan protokol kesehatan (prokes), pria yang menamatkan pendidikan lanjutan di Australia ini memberikan acungan jempol kepada warga Bali. Ia menilai masyarakat Bali sangat disiplin dan antusias menjalankan imbauan pemerintah. Terbukti, layanan vaksinasi yang dilakukan di Kampus Polkesden selalu penuh, bahkan pendaftarnya selalu melampaui dosis yang disediakan per harinya.

Sebenarnya, vaksinasi yang digencarkan oleh Pemerintah Provinsi Bali dan pihak lain tergolong sukses menekan angka penularan harian. Namun akhir-akhir ini kasusnya makin menggila hingga mencapai tiga digit. Hal ini lah yang mendasari pemerintah harus melakukan sesuatu, termasuk harus menunda lagi rencana pembukaan pariwisata Juli ini.

Sebagai wujud kontribusi Polkesden menangani pandemi, pihaknya telah menyebar relawan dari Civitas Akademikanya yang telah kompeten. Mereka bekerja secara totalitas demi kemanusiaan. (Tim)