Pegadaian Borong Penghargaan Global, Sukuk Rp 4,4 T Dipertaruhkan
Denpasar, diaribali.com —
PT Pegadaian kembali menegaskan ambisinya menembus pasar global. Dalam ajang 19th Annual Borrower Issuer Awards 2025 yang digelar Alpha Southeast Asia di The Fullerton Hotel, Kamis (12/2), perusahaan pembiayaan pelat merah ini menyabet dua penghargaan: “Best Sovereign Sukuk” dan “Best Social Bonds in Asia 2025”.
Di balik seremoni dan tepuk tangan, ada angka besar yang dipertaruhkan. Pegadaian menerbitkan surat utang senilai Rp 4,457 triliun atau setara US$278,5 juta. Rinciannya, Sukuk Mudharabah Rp 1,752 triliun dan Obligasi Sosial Rp 1,940 triliun. Instrumen ini diklaim mengalami kelebihan permintaan (oversubscribed), menandakan tingginya minat investor terhadap profil risiko dan prospek bisnis perseroan.
Direktur Keuangan dan Perencanaan Strategis Pegadaian, Ferdian Timur Satyagraha, menyebut penghargaan tersebut sebagai validasi bahwa perusahaan mampu memadukan profitabilitas dan tanggung jawab sosial. Pernyataan normatif ini lazim terdengar dalam setiap penerbitan instrumen berlabel “hijau” atau “sosial”. Namun pertanyaan mendasarnya tetap sama: sejauh mana dampak sosial itu benar-benar terukur?
Seluruh dana hasil penerbitan disebut dialokasikan untuk pembiayaan mikro dan UMKM. Di atas kertas, langkah ini selaras dengan agenda inklusi keuangan dan target pembangunan berkelanjutan (SDGs). Dalam praktiknya, efektivitas penyaluran akan menjadi ujian. Pembiayaan mikro kerap menghadapi tantangan klasik: kualitas kredit, literasi keuangan debitur, hingga daya tahan usaha di tengah perlambatan ekonomi.
Penghargaan internasional memang memperkuat reputasi dan memperluas akses pendanaan. Diversifikasi sumber dana juga memberi ruang likuiditas lebih longgar bagi perseroan. Namun ekspansi berbasis utang tetap menuntut disiplin tata kelola dan transparansi penggunaan dana, terutama untuk instrumen berlabel sosial yang sensitif terhadap isu akuntabilitas.
Keberhasilan strukturisasi dan distribusi surat utang ini turut melibatkan sejumlah penjamin emisi, antara lain PT CIMB Sekuritas, PT BCA Sekuritas, PT BNI Sekuritas, PT BRI Danareksa Sekuritas, PT DBS Vickers Sekuritas Indonesia, PT Indo Premier Sekuritas, dan PT Mandiri Sekuritas. Sinergi ini memperlihatkan kuatnya jaringan pasar modal domestik dalam menopang ambisi global perusahaan BUMN.
Di tingkat wilayah, respons optimistis juga mengemuka.
Pemimpin Wilayah Pegadaian Kanwil VII Bali Nusra, Edy Purwanto, menyebut capaian tersebut sebagai energi positif untuk mendorong pembiayaan produktif UMKM dan memperluas literasi keuangan.
Meski demikian, pasar global tidak hanya memberi penghargaan—ia juga memberi penilaian berkelanjutan. Reputasi yang dibangun lewat sukuk dan obligasi sosial akan diuji konsistensinya pada laporan dampak, kualitas portofolio, serta kemampuan menjaga rasio risiko.
Go global bukan sekadar soal trofi, melainkan soal ketahanan model bisnis di tengah dinamika ekonomi yang kian volatil. (Art)