Mengulang Ritual 104 Tahun Lampau,Kembali Karya Agung Danu Kreti Digelar di Danau Batur

Paruman Manggala Karya jelang Karya Agung Danu Kreti, Tawur Agung Melabuh Gentuh, Meras Danu lan Gunung Bakti Pakelem ring Segara lan Puncak Gunung Batur, Mapeselang lan Mapadanan, Desa Adat Batur, Selasa (12/5).
Bagikan

BANGLI, Diaribali.com–
Krama Desa Adat Batur bersiap melaksanakan upacara pemuliaan danau yang dilaksanakan setiap lima tahun sekali. Upacara pakelem atau Danu Kreti itu dijadwalkan akan dilaksanakan pada Tilem Kapat, 14 Oktober 2023 mendatang.

Pada Paruman Manggala Karya yang digelar di Madya Mandala Pura Ulun Danu Batur, Desa Adat Batur, Selasa (12/5) tampak masyarakat adat Batur semakin memantapkan persiapan pelaksanaan upacara tersebut. Menariknya, ritual pemuliaan danau yang berjudul lengkap Karya Agung Danu Kreti, Tawur Agung Melabuh Gentuh, Meras Danu lan Gunung Bakti Pakelem ring Segara lan Puncak Gunung Batur, Mapeselang lan Mapadanan akan digelar seperti 104 tahun silam, tepatnya pada tahun 1919 Masehi.

Pamucuk Pura Ulun Danu Batur, Jero Gede Batur Duhuran mengatakan bahwa upacara Pakelem Danu Kreti telah diamanatkan oleh leluhur Batur sejak masa silam sebagai upaya niskala menjaga kesucian Danau Batur. Ritual itu secara siklus dilakukan setiap lima tahun sekali, dan dilakukan terakhir kali pada tahun 2018 silam.

“Upacara ini ditujukan sebagai langkah penyucian Danau Batur dan Gunung Batur sebagai salah satu sumber air bagi subak-subak di Balidwipa. Ini tercatat di Rajapurana Pura Ulun Danu Batur yang kami sucikan, juga pada lontar-lontar lain di Bali, yang disebut menjadi tanggung jawab bersama seluruh masyarakat Bali, lebih-lebih para pemimpin Bali. Oleh karena itulah, titiang mengajak seluruh masyarakat untuk turut serta menyukseskan upacara tahun ini,” katanya.

Disinggung terkait dengan ritual tahun ini yang dilaksanakan seperti upacara tahun 1919, Jero Gede Batur Duhuran mengatakan intinya terletak pada kurban pakelem di Danau Batur. Menurut Rajapurana Pura Ulun Danu Batur, pakelem di Danau Batur menggunakan 3 ekor kerbau dan seekor babi hitam.

Data itu pun dikuatkan dengan penemuan arsip berangka tahun 1919 yang menjelaskan secara detail penggunaan 3 ekor kerbau dan seekor babi hitam pada pelaksanaan pakelem.
“Jadi totalnya kami menggunakan 10 ekor kerbau untuk tahun ini. Itu termasuk pakelem di Pucak Gunung Batur, sebagai lantaran, tawur, pakelem di segara, paselang,” katanya.

Sementara itu, terkait dengan jadwal upacara dijelaskan bahwa beberapa rangkaian upacara telah dilaksanakan. Adapun rangkaian upacara telah dimulai pada 2 September 2023 lalu yang dimulai dari Nyukat Genah Karya, kemudian ngaturang Pakeling Karya pada 6 September 2023, Nanceb Rompok pada 8 September 2023, dan Nunas Beras Catur pada 11 September 2023.

Selanjutnya pada 14 September akan dilaksanakan upacara Netegang, Ngingsah, Makarya Sanganan Suci, Nanceb Sunari, Mapangalang, dan Ngeker Dewasa. Pada 8 Oktober 2023 upacara dilanjutkan dengan Nuur Tirta Pakuluh.

Tanggal 11 Oktober 2023, pralingga Ida Bhatari/Bhatara akan diturunkan dari payogan-nya dan dilanjutkan dengan melasti ke Segara Watuklotok dan menuju tempat upacara di Pura Segara Ulun Danu Batur-Pura Jati. Keesokan harinya pada 12 Oktober 2023 dilaksanakan upacara Ngadegang Bagia Pulakerti. Tanggal 13 Oktober 2023 dilaksanakan Pepada Wewalungan dan Ngolah Wewalungan, serta Memben.

Tanggal 14 Oktober 2023, tepat pada Tilem Kapat akan dilaksanakan puncak karya, sedangkan 15 Oktober 2-23 dilaksanakan Nyepi Karya. Pada 16-19 Oktober 2023 dilaksanakan Bakti Penganyar. Tanggal 17 Oktober 2023 dilaksanakan upacara Mapadanan, serta tanggal 20 Oktober 2023 dilaksanakan Bakti Pepranian, sekaligus Masineb.
“Kami mengajak seluruh umat se-Dharma untuk meningkatkan sradha-bakti untuk menyongsong upacara tersebut,” pungkas Jero Gede.
(Art)