Stop Stigma Negatif Perempuan Bertato

Dewi Pradewi saat meluncurkan buku "Tato Perempuan Bali".
Dewi Pradewi saat meluncurkan buku "Tato Perempuan Bali".

DENPASAR-DiariBali

Penyanyi pop Bali Dewi Pradewi mengajak masyarakat berhenti memandang negatif perempuan dengan tato di tubuhnya. Ia memberikan edukasi dalam sebuah buku karyanya “Tato Perempuan Bali”.

Buku tersebut di-launching serangkaian Bulan Kartini, bertempat di The Magendra, Denpasar, Jumat (30/4/2021). Buku setebal 152 halaman tersebut diawali dengan kata pengantar yang ditulis oleh aktivis perempuan Bali, Ni Luh Djelantik.

“Ini merupakan karya tulis perdana saya dalam bentuk buku, yang saya ambil dari penelitian S2 saya di Program Studi Kajian Budaya, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Udayana tahun 2019 dan meraih predikat Cumlaude, dengan judul tesis ‘Konstruksi Stigma pada Perempuan Bali Bertato di Kota Denpasar’,” ujar Dewi Pradewi.

Dikatakan, pembuatan buku ini sebagai upaya atau langkah kecil gerakan emansipatoris untuk kesetaraan antara laki-laki dan perempuan. Karena, dari hasil penelitiannya bahwa tato itu menjadi masalah ketika digunakan oleh perempuan. Fenomena perempuan Bali bertato dalam wacana sosial, kultur dan moral selalu menyajikan sisi menarik yang mungkin luput dari perhatian khalayak.

Sambungnya, tato sebagai seni dekorasi tubuh ternyata masih menyisakan berbagai persoalan bagi perempuan Bali di tengah budaya patriarki yang keras. Maka, di dalam buku ini diungkap bagaimana tubuh, stigma, dan perlawanan tersebut bergulat erat dalam warna-warni Tato Perempuan Bali.

“Kita tidak membicarakan salah benar dalam buku ini tapi jalan tengah untuk berjalan beriringan tanpa melukai hati siapapun di dalamnya. Karena semua orang punya jalan dan cara masing-masing untuk menjadi cantik atau tampan. Ada yang memilih cara untuk cantik dengan pergi ke salon dan saya (perempuan bertato) memilih tampil cantik dengan menggunakan tato. Orang tidak salah berprasangka buruk karena tiap orang memiliki pengalaman dan cara pandang yang berbeda untuk menanggapi segala sesuatunya,” jelas pelantun Bungan Tresna ini.

Kenapa Harus Membaca Buku Ini? Perempuan bernama lengkap Putu Dewi Ariantini, SE, M.Si ini memaparkan bahwa banyak cerita di dalamnya sebagai penerima stigma (terstigma) dan penstigma (pemberi stigma). Bagaimana bentuk stigmanya sendiri di masyarakat, makna hingga perlawanan yang dilakukan oleh yang terstigma.

Urgensinya adalah implikasi psikis yang dialami oleh terstigma dimana ia adalah sebagai pelaku budaya yang terpinggirkan dari budaya dominan.
Setelah membaca buku ini diharapkan bisa membuka mata masyarakat bahwa tidak semua perempuan bertato itu seperti yang mereka pikirkan (terstigma/negatif).

Perempuan bertato harus mampu menunjukkan kelebihannya, semangat yang lebih dari yang lain. Perempuan bertato itu sudah punya modal, yaitu keberanian untuk melawan stigma masyarakat,” sebut Dr. Nanang Sutrisno, S.Ag, M.Si selaku penyunting buku ini. DBS