“Rame ing Gawe, Sepi ing Pamrih”

AA Agung Gde Agung

DENPASAR-DiariBali

USIANYA sudah tidak muda lagi. Ia lahir empat tahun pascakemerdekaan Republik Indonesia. Usia fisik 72 tahun ternyata bukan penghalang baginya untuk “blusukan” bertemu masyarakat berbagai lapisan.

Setidaknya pemandangan tersebut bisa dilihat saat penyerahan talikasih bagi masyarakat yang dipusatkan di Parkir Benua Square, Kedonganan, Kuta, Badung, Jumat lalu.

Pagi itu, Anggota DPD RI (Senator) Dapil Bali AA Gde Agung atas niat yang tulus menyerahkan 403 paket bahan kebutuhan pokok untuk warga Kecamatan Kuta dan Kuta Selatan.

Wilayah ini boleh dikatakan paling terdampak pandemi Covid-19 karena bergantung pada sektor pariwisata.
Banyak keteladan yang bisa dipetik dari sosok Panglingsir Puri Ageng Mengwi ini. Bukan karena ia rajin menggelontor bantuan ke masyarakat. Tetapi soal kedisiplinan dan ketulusan.

Meski berstatus keturunan raja dan mantan Bupati Badung dua periode (2005-2015), AA Agung Gde Agung menyadari keterbatasannya.

Posisinya saat ini sebagai Senator RI dimanfaatkan semaksimal mungkin membantu rakyat seluruh Bali, meski, sekali lagi, tidak bisa menjangkau semua lapisan.

Kalimat tersebut berulangkali diucapkannya. “Bantuan berupa beras 5 kg, telur dan minyak ini tidaklah seberapa. Bahkan ibaratnya menggarami laut atau menyirami padang pasir,” jelasnya saat menyerahkan talikasih.

Namun menurutnya, yang perlu digarisbawahi adalah ketulusan hatinya. AA Gde Agung mengaku tidak memiliki ambisi pribadi, terlebih untuk tujuan politik. Selama Covid-19 mewabah, ia tergolong sangat aktif turun membantu masyarakat. Hal ini bisa dibuktikan dari jejak digital, media massa dan pengakuan warga.

Padahal, jika mau cuek, ia bisa saja berdiam diri di puri untuk beristirahat karena alasan usia yang sudah lanjut. Di musim pandemi seperti ini, lansia merupakan kelompok berisiko terpapar virus. Tampaknya kalimat itu tidak terselip dalam kamus hidup seorang AA Gde Agung.

Dan yang tak kalah penting lagi, setiap kali menggelar kegiatan, AA Gde Agung tidak pernah ingkar waktu. Kegiatan pasti berlangsung sesuai jadwal alias “on time”. Kedisiplinan ini sering menjadi perbincangan di kalangan awak media yang meliput kegiatannya.

“Kalau Pak Agung buat acara pasti on time, singkat, dan padat,” begitu kata para pewarta. Kebiasaan seperti ini menjadi menarik bagi pewarta sebab pada umumnya, sebagian besar pejabat masih terpapar virus “ngaret” dalam menghadiri sebuah kegiatan.

Merujuk sikap AA Gde Agung yang disiplin dan peduli masyarakat, maka tidak salah dirinya memiliki “people power” yang sangat kuat. Buktinya, ia berhasil memenangkan pemilihan Bupati Badung dua periode yang dipilih langsung oleh masyarakat Gumi Keris.

Berpolitik bukanlah cita-citanya. Profesi awalnya adalah seorang notaris. Hingga menjelang Pibup Badung tahun 2005, masyarakat subak dan tokoh-tokoh adat “nengkil” ke Puri Mengwi memohon agar dirinya berkenan bertarung memperebutkan kursi Badung Satu.

Keraguan sempat menggelayuti benaknya. Pasalnya, ia merasa tidak punya kekuatan politik. Namun sekali lagi, berbekal “people power” sukses membawanya melenggang memimpin Badung selama dasa warsa.

Nama AA Gde Agung ternyata masih melekat di benak warga meski sudah tidak menjabat bupati. Buktinya, empat tahun setelah pensiun, ia lolos menjadi salah satu Senator RI Dapil Bali di tengah persaingan yang sangat ketat pada Pemilu 2019.

Bukan hanya warga Badung, atau Bali yang beragama Hindu saja yang merasakan sentuhan kasih sayangnya. Umat lain dan Muslim juga merasakan terbukti dengan kepeduliannya terhadap kuota Haji bagi calon jemaah asal Bali. (BAQ)