Pandemi, Pengangguran di Bali Didominasi Kaum Terdidik

Capasity Building Media yang digelar Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, Kamis (20/5).

DENPASAR – DiariBali
Dampak pandemi Covid-19 sangat besar dirasakan bagi Pulau Dewata Bali. Dimana Bali yang bergantung pada sektor pariwisata, kini terjun bebas akibat pandemi yang sudah berlangsung setahun lebih. Hal ini terbukti angka Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Bali berdasarkan tingkat pendidikannya ternyata didominasi oleh pengangguran terdidik.

Berdasarkan data pengangguran tertinggi didominasi oleh lulusan Diploma sebesar (13,15 %) dan lulusan SMK (10,12%), Universitas (6,26 %), SMA (7,29 %), dan sedangkan lulusan SD kebawah (2, 43%).

Demikian disampaikan Dr. I Gusti Wayan Murjana Yasa, SE.,MSi, pada acara Capacity Building Media, dengan Tema “Pertumbuhan Ekonomi dan Makro Prudential” yang dilaksanakan Perwakilan
Bank Indonesia Provinsi Bali
Kamis, 20 Mei 2021, di Renon, Denpasar.

Akademisi Universitas Udayana ini menyebut, tingkat pengangguran di Bali selumnya, pada tahun 2017 hingga 2019 relatif kecil, namun ketika pandemi ini mulai melonjak sangat signifikan, bahkan mencapai 5,63 persen, serta masuk dalam urutan 18 pengangguran tertinggi secara nasional.

“Tentu ini akibat dampak dari pandemi, di mana banyak masyarakat yang kehilangan pekerjaan atau di PHK dan ditambah para lulusan saat pandemi sulitnya mencari peluang-peluang pekerjaan,” jelasnya.

Selain itu, sambung Murjana Yasa, perbandingan tingkat pengangguran di perkotaan dan pedesaan juga sangat dalam perbedaannya. Dampak pandemi ini berdampak luas bagi daerah perkotaan. Terbukti, jumlah pengangguran tertinggi didominasi di perkotaan seperti Denpasar (7,62%) paling tinggi, selanjutnya kabupaten Badung (7,53%), disusul kabupaten Gianyar (6,92%).

Tingkat pengangguran yang mendominasi saat pandemi ini ternyata mereka yang lulusan Diploma. Kemudian dilanjutkan oleh oleh lulusan Universitas dan lulusan SMA/SMK. “Seharusnya diploma ini harus lebih kreatif dibandingkan dengan lulusan tidak terdidik karena mereka memiliki keahlian sejak masa perkuliahan,” imbuhnya.

Dengan demikian, pengangguran di Bali sekarang didominasi oleh pengangguran terdidik oleh karena pengangguran di perkotaan banyak yang kena pemutusan hubungan kerja (PHK) dan saat ini mereka harus mencari-cari peluang lain.

Murjana Yasa menilai bahwa faktor penyebab terjadinya pelonjakan pengangguran tinggi di Bali tentu disebabkan oleh, Pertama, antrean kerja yang bertambah terjadi saat pandemi ini. Kedua, lulusan perguruan tinggi, Diploma, dan SMA juga terjadi kenaikan. Dan mereka yang terdampak pandemi dan akibat dirumahkan oleh perusahaan tempatnya bekerja.

“Pilih-pilih kerja juga masih terjadi bagi lulusan perguruan tinggi dan diploma. Oleh karena itu kita perlu kembangkan kreativitas mereka, agar mulai kuliah sudah mulai membuka usaha. Sehingga ketika lulus kuliah dia sudah bekerja atau berbisnis,” paparnya.

Untuk itu, pihaknya berharap mengembangkan optimisme
pemulihan ekonomi Bali perlu dilakuakn dengan cara optimisme percepatan pemulihan ekonomi Bali dilakukan melalui antar lain: Pertama, Percepatan penanganan Covid-19, melalui: Peningkatan kepatuhan 5 M, Peningkatan cakupan 3T, Percepatan peningkatan cakupan vaksinasi Covid-19.

Kedua, Mempercepat pemulihan perekonomian Bali dilakukan melalui antara lain Diversifikasi ekonomi melalui berbagai sektor potensial seperti: Ekonomi kreatif dan digital yang meliputi sektor Pendidikan, Pertanian, dan Kesehatan. Disampi g juga yang tidak kalah penting dengan menerapkan Program Work from Bali bagi BUMN, serta pelaksanaan vaksinasi Bali wide guna mencapai kekebalan komunal yang dilanjutkan dengan pembukaan koridor Bali bagi wisma. (Red)