Kunjungan Wisdom ke Bali Turun Drastis Dampak Berlaku Swab PCR

I Made Ramia Adnyana (Ist)
I Made Ramia Adnyana (Ist)
Bagikan

“Jumlah kunjungan Wisatawan Domestik ke bali turun drastis, hampir turun 6 ribu kunjungan per hari. Akibat dampak dari diberlakukannya Surat Edaran wajib keterangan negatif hasil swab PCR ke Bali bagi PPDN jalur udara atau melalui bandara udara”

DENPASAR- DiariBali
Pelaku pariwisata di Bali sangat merasakan dampak akibat diberlakukannya pengetatan khususnya pada jalur udara atau bandara bagi Pelaku Perjalan Dalam Negeri (PPDN) yang harus menunjukkan keterangan hasil tes negatif uji swab berbasis PCR (polymerase chain reaction) yang mulai diberlakukan akhir Juni kemarin.

Semenjak diberlakukannya kebijakan Surat Edaran (SE) Gubernur nomor 08 tahun 2021 oleh pemerintah Provinsi Bali ini, jumlah kunjungan wisatawan domestik ke Bali melalui jalur udara turun drastis hingga hampir 60 persen.

Padahal sebelum diberlakukannya SE ini kunjungan wisatawan domestik ke Bali rata-rata diangka 9 ribu per hari. Namun, saat diberlakukan harus menunjukkan hasil negatif uji swab PCR, kunjungan langsung drop, dengan angka kunjungan 3 ribu saja.

Wakil Ketua Indonesian Hotel Heneral Mamager Association (IHGMA) Bali I Made Ramia Adnyana mengatakan kebijakan pemerintah terkait pemberlakuan hasil Uji Swab ini sangat berdampak sekali bagi kalangan pariwisata di Bali.

Ia berharap agar kebijakan ini ditinjau kembali, dan agar ditetapkan pemberlakuan cukup dengan hasil rapid antigen seperti dulu.

Ramia sejalan dengan tujuan pemerintah terkait aspek kesehatan.
Dirinya setuju kalau aspek kesehatan menjadi nomor satu dan tidak boleh disepelekan.

Namun, kata Pria asal Bumi Lahar, Karangasem ini menguraikan, perlu juga diperhatikan bagi kalangan pariwisata yang ada di Bali.
Ekonomi juga perlu diperhatikan agar pariwisata di Bali tetap bergulir.

“Semenjak diberlakukannya SE Gubernur terkait pemberlakuan 2×24 jam dengan PCR itu, tadi malam otomatis langsung drop kunjungan ke Bali,” ungkapnya Kamis (1/7) usai mengikuti FGD di Kantor Dinas Pariwisata Provinsi Bali.

Selain itu dirinya setuju dengan penerapan PCR dengan harga yang lebih terjangkau. Agar tidak harga uji swab jauh lebih tinggi dari harga tiket penerbangan ke Bali.

Ia menilai Bali merupakan holiday destination (destinasi keluarga), maka perlu diperhatikan, pasalnya akan berlibur bersama keluarganya hingga empat sampai lima orang.

“Kalau mereka berlima libur ke Bali itu berat sekali kalau harus uji swab kan biayanya mahal. Bayangkan 1,3 juta kali 5 orang itu habis uangnya untuk swab,” terangnya.

Untuk itu, lanjut Ramia dalam Focus Group Discussion ini bertujuan untuk mencarikan solusi yang tepat bersama pelaku pariwisata, pemerintah, maupun stake holder terkait agar hasiil ini disampaikan kepada Pemerintah. (Tim)