Hari Pagerwesi, Tempatkan Pengetahuan dalam “Padma Hredaya”

Anak Agung Gde Alit Geria

“Perayaan hari raya Pagerwesi adalah pemujaan Sang Hyang Pramesti Guru patut Ngeret Indria (Introspeksi) karena telah menempatkan Ilmu pengetahuan di jiwa”.

DENPASAR- DiariBali

Hari raya Pagerwesi yang jatuh tepat Budha Kliwon Wuku Shinta hari yang menginjak pawukon pertama kedudukannya sebagai pemujaan Sang Hyang Pramesti Guru, sebagai sumber gurunya alam semesta.

Menurut Akademisi Anak Agung Gde Alit Geria mengatakan, sangat erat kaitannya dengan hari Saraswati sebagai pemujaan Sang Hyang Aji Saraswati dipercaya sebagai turunnya ilmu pengetahuan suci. Dalam perayaan hari raya Pagerwesi sebagai pemujaan Sang Hyang Pramesti Guru patut ngeret Indria (introspeksi) karena telah menempatkan ilmu pengetahuan di Padma Hredaya (jiwa).

Untuk mempelajari ilmu pengetahuan yang diturunkan saat Saraswati, sesungguhnya memerlukan guru. Dalam hal ini peran guru sangatlah mulia. Saat Pagerwesilah umat memuja Tuhan dalam manifestasinya sebagai mahaguru .

Dalam lontar Sundarigama disebutkan “Budha Kliwon Shinta Ngaran Pagerwesi payogan Sang Hyang Pramesti Guru kairing ring watek Dewata Nawa Sanga ngawerdhiaken sarwa tumitah sarwatumuwuh ring bhuana kabeh”.

Hari Raya Pagerwesi sering diartikan oleh umat Hindu sebagai hari untuk memagari diri yang dalam bahasa Bali disebut “magehang awak”. Pengetahuan sejati itulah sesungguhnya merupakan “pagar besi” untuk melindungi hidup di dunia ini.

Pada hari raya Pagerwesi ini juga adalah hari yang paling baik untuk mendekatkan Atman kepada Brahman sebagai guru sejati.

“Kita patut melaksanakan Upawasa (Berpuasa) dalam hari suci ini. Dengan demikian secara tidak langsung, kita telah mendekatkan diri dalam pemujaan Ida Hyang Pramesti Guru. kata penekun sastra asal Bumi Seni yang masih aktif sebagai dosen di UPMI PGRI Denpasar tersebut. Selasa (31/8/2021).

Sebagaimana umat Hindu bisa melakukan pesembahyangan di pura atau di rumah merajan masing-masing. Persembahyangan umumnya pada pagi hari hingga siang hari, sekalipun ada yang sembahyang pada sore hari.

Sedangkan menurut pedoman sastra, pada tengah malam umat dianjurkan untuk melakukan meditasi (yoga dan semadi).

Baginya, keterbatasan ruang dan waktu tidaklah menjadi halangan untuk selalu sradha bhakti kepada Hyang Embang (Tuhan Hyang Maha Esa) agar selalu diberikan sinar suci serta tuntunan sekala niskala.

Ditengah pandemi ini yang terpenting adalah mengutamakan protokol kesehatan secara ketat  kendatipun dilaksanakan dirumah masing-masing dengan penuh rasa syukur dan tulus iklas.

“Jadikan perayaan hari suci ini sebagai momentum introspeksi sebagai kunci menjalankan Upawasa “ngardi jagat santi jagaditha” (kesejahteraan jagad beserta isinya),” pungkas Alit Geria kelahiran 21 April 1963. (Get)