Galungan, Kebutuhan Babi Diprediksi 21 ribu Ekor. Bagaimana Persediaannya?

DENPASAR, DiariBali Menyambut Hari Raya Galungan dan Kuningan, 14 dan 24 April 2021, kebutuhan daging babi seluruh Bali diprediksi 21 ribu ekor. Angka ini berkaca dari Galungan sebelumnya yang mencapai 17 ribu ekor. Masyarakat diminta tidak risau, apalagi percaya dengan isu bahwa Bali kekurangan stok babi. Pasalnya, hingga hari ini, setidaknya tersedia 50 ribu ekor babi siap potong. Demikian dikatakan Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Provisni Bali IB Wisnuardhana, di Denpasar, Jumat (8/4/2021). "Data stok itu kami himpun dari kabupaten/kota berdasarkan pengecekan ke sentra-sentra peternakan babi besar dan peternakan rakyat. Jadi Bali masih surplus," kata Wisnuardhana. Pernyataannya itu sekaligus menepis isu yang beredar di media sosial yang mengatakan Bali mengalami kelangkaan daging babi. Populasi babi di Bali juga masih tinggi, lebih dari 300 ribu ekor. Memang, lanjut dia, di awal 2020 sampai pertengahan tahun, babi sempat terserang suspect (demam babi), di wilayah sentral seperti Bali, NTT, Jawa Tengah dan Sumatera Utara. Wabah menular menyebabkan kematian massal sehingga populasinya menurun. Soal kenaikan harga, birokrat asal Tabanan ini menilai wajar karena dipengaruhi psikologis pasar. Jika kebutuhan meningkatkan, harga pasti naik. Ini hukum absolut dalam ekonomi. Hingga hari ini, harga per kilogram daging babi di pasar menembus Rp 90.000. Harga tersebut memang jauh di atas harga eceran terendah Rp 40.000. Red

DENPASAR, DiariBali

Menyambut Hari Raya Galungan dan Kuningan, 14 dan 24 April 2021, kebutuhan daging babi seluruh Bali diprediksi 21 ribu ekor. Angka ini berkaca dari Galungan sebelumnya yang mencapai 17 ribu ekor.

Masyarakat diminta tidak risau, apalagi percaya dengan isu bahwa Bali kekurangan stok babi. Pasalnya, hingga hari ini, setidaknya tersedia 50 ribu ekor babi siap potong. Demikian dikatakan Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Provisni Bali IB Wisnuardhana, di Denpasar, Jumat (8/4/2021).

“Data stok itu kami himpun dari kabupaten/kota berdasarkan pengecekan ke sentra-sentra peternakan babi besar dan peternakan rakyat. Jadi Bali masih surplus,” kata Wisnuardhana.

Pernyataannya itu sekaligus menepis isu yang beredar di media sosial yang mengatakan Bali mengalami kelangkaan daging babi. Populasi babi di Bali juga masih tinggi, lebih dari 300 ribu ekor.

Memang, lanjut dia, di awal 2020 sampai pertengahan tahun, babi sempat terserang suspect (demam babi), di wilayah sentral seperti Bali, NTT, Jawa Tengah dan Sumatera Utara. Wabah menular menyebabkan kematian massal sehingga populasinya menurun.

Soal kenaikan harga, birokrat asal Tabanan ini menilai wajar karena dipengaruhi psikologis pasar. Jika kebutuhan meningkatkan, harga pasti naik. Ini hukum absolut dalam ekonomi.

Hingga hari ini, harga per kilogram daging babi di pasar menembus Rp 90.000. Harga tersebut memang jauh di atas harga eceran terendah Rp 40.000. Red