Catatan 45 Tahun Pengabdian Prof. Bakta

Prof. Dr. dr. I Made Bakta, Sp.PD-KHOM

“Prof. Dr. dr. I Made Bakta, Sp.PD-KHOM mengabdikan diri selama 45 tahun dalam dunia pendidikan tinggi. Prestasi-prestasi yang ia raih sudah menunjukan kecintaannya di dunia pendidikan.”

DENPASAR-DiariBali
Dedikasi Prof. Dr. dr. I Made Bakta, Sp.PD-KHOM yang saat ini menjabat sebagai Rektor di Universitas Bali Internasional (UNBI), patut diapresiasi. Prof. Bakta telah mengabdikan hidupnya selama 45 tahun yang tidak pernah putus dalam dunia pendidikan tinggi.

Karir Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Udayana (FK Unud) ini diawali menjadi dosen pada bagian penyakit dalam FK Unud pada April 1976 dan diangkat menjadi dosen berstatus PNS bagian penyakit dalam mulai tahun 1979. Kemudian melanjutkan Pendidikan Spesialis Penyakit Dalam di Universitas Diponogoro dan lulus pada Juni 1982.

Pada tahun 1989 melanjutkan Doktor (S3) Kedokteran di Universitas Airlangga dan lulus pada Agustus tahun 1993. Dua tahun kemudian pada tahun 1995, pria kelahiran Denpasar, 28 Juni 1948 ini berhasil meraih gelar Profesor (Guru Besar) di usia 47 tahun.

Meskipun Gelar Profesor telah diraih, Prof. Bakta melajutkan studinya di Universitas Tokyo, Jepang khusus mendalami Leukimia selama 3 bulan. Setelah itu, diangkat menjadi Kepala Bagian Penyakit Dalam dan mendirikan program studi (Prodi) spesialis penyakit dalam. Setelah itu, pada tahun 2000 karirnya kian menanjak menjadi Direktur Program Pascasarjana Unud hingga tahun 2005. Karirnya mencapai puncak setelah menjadi Rektor selama dua kali periode, 2005-2013.

Selama 8 tahun menjadi Rektor Unud, Prof. Bakta telah membangun dua fakultas yang sebelumnya belum ada, yaitu FISIP dan Fakultas Perikanan dan Kelautan sekitar tahun 2011-2012, sekaligus hampir 2 tahun saat menjabat sebagai Rektor juga menjabat menjadi Dekan di dua fakultas ini. Hingga kini, kedua Fakuktas ini kian eksis di Unud.

Setelah purnabakti menjadi Rektor Unud, ayah tiga anak dari pernikahan dengan Ni Nyoman Sriani ini pun berkiprah menjadi Rektor di Institut Ilmu Kesehatan (IIK) Medika Persada Bali yang didirikan bersama beberapa teman pada tahun 2015 silam. Berkat dedikasi, perjuangan, dan pengalamannya, UNBI yang beroprasioanl pada tahun 2016, dalam waktu 3 tahun (2019) IIK Medika Persada Bali meningkat statusnya menjadi Universitas Bali Internasional (UNBI).

“Saya tidak pernah keluar dari habitat saya (dalam dunia pendidikan,red), jadi kalau Anda mengatakan 45 tahun mengabdi di bidang pendidikan, Saya rasa juga tidak salah. Meskipun saya tahu bahwa pendidikan itu luas sekali, Saya hanya bersyukur bahwa dapat menjalankan tugas itu secara tidak terputus sejak 1976 sampai saat ini tepat di Hari Ulang Tahun saya yang ke 73 tahun” ujar Prof. Bakta.

Berkat pengabdiannya itu, Prof. Bakta pernah diberikan penghargaan K-Nadha Award sebagai tokoh pendidikan yang berpengaruh terhadap pembangunan SDM Bali pada tahun 2014. Dia juga pernah mendapat gelar Doktor Honoris Causa dari Universitas Yamaguchi, Jepang. Meskipun Prof. Bakta telah purnabakti per 1 Juni 2018 pada usia 70 tahun, namun dedikasinya masih dibutuhkan oleh Unud. Dia pun diminta untuk mengabdi hingga usia 79 tahun. “Mudah-mudahan sisa waktu yang masih ada bisa Saya abdikan terus kepada dunia pendidikan tinggi, sehingga bisa mencapai sesuatu yang bisa kita berikan kepada masyarakat,” tandasnya.

Kecintaannya pada ilmu membuatnya tetap mengabdikan diri. Dia pun berharap pengabdian dan dedikasinya ini bisa mengembangkan UNBI menjadi perguruan tinggi yang mampu menghadirkan lulusan profesional, unggul dan berbudaya. Apalagi, belum ada sejarah menaikkan status Institut (IIK Medika Persada Bali) menjadi Universitas (UNBI) dalam kurun waktu 3 tahun.

Di masa pendemi ini, Prof. Bakta tetap optimis UNBI bisa berkembang. Menurutnya, Pandemi Covid-19 tidak hanya memberikan tantangan negatif, namun juga tantangan positif. Dimana, kampus dipaksa untuk melakukan pembelajaran secara daring (online). Sehingga, pada suatu saat pandemi Covid-19 berakhir, sistem proses pembelajaran tetap bisa dilakukan dengan perpaduan online dan offline. Sistem ini merupakan kemajuan dalam dunia pendidikan. Sehingga, networking dalam dunia pendidikan semakin luas.

Saat ini UNBI yang berada dalam kepemimpin Prof. Bakta telah memiliki 10 Program Studi yang dibagi dalam 2 Fakultas, yakni Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan (FIK) dengan 6 Program Studi Sarjana yakni, Farmasi Klinis, Teknologi Laboratorium Medik, Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3), Manajemen Informasi Kesehatan, Fisioterapi dan Administrasi Rumah Sakit yang beliau percayakan kepemimpinan akademiknya kepada generasi muda “ Ns. I Gusti Ngurah Md. Yudhi Saputra, S.Kep.,MM (Dekan FIK), sedangkan Fakultas Bisnis Sosial Teknologi dan Humaniora (FBSTH) dengan 4 prodi (Sarjana) Psikologi, Bisnis Digital, Informatika dan Serjana Terapan Teknik Elektromedik beliau percayakan kepemimpinan akademiknya kepada Guru Besar Fakultas Ekonomi UNUD “ Prof. Dr. IKG Bendesa, M.A.D.E “ yang juga merupakan mantan Koordinator Kopertis 8 serta Wakil Rektor UNUD.

Untuk menjadi Universitas paripurna, UNBI telah mengusulkan alih kelola salah satu PTS yang yang ada di Denpasar dan pembukaan 6 Prodi baru yang disesuaikan dengan perkembangan dan kebutuhan masyarakat. Apalagi, UNBI didukung dengan SDM dosen dan pegawai yang muda dan energik, serta didukung sarana dan prasarana yang representatif. “Ke depan kita akan terus mengembangkan Prodi-prodi baru sehingga UNBI menjadi universitas yang paripurna, tidak saja menjadi universitas pendidikan, tetapi menjadi riset university,” pungkasnya. (LIN)