Angkat Cerita Dalem Sida Karya, ST Karma Prasetya Tampil Memukau

“Pertunjukan Fragmen Tari dalam Pawai Ogoh-ogoh di Desa Sibang Kaja, Abiansemal, Badung”

MANGUPURA, diaribali.com – Penampilan fragmen tari oleh Sekaa Teruna (ST) Karma Prasetya, Banjar Sintrig, Desa Sibang Kaja, Kecamatan Abiansemal, Kabupaten Badung mengundang decak kagum dari para penonton yang menyaksikan.

Pantauan lapangan, gairah penonton digugah oleh kepiawaian para penari yang melakukan atraksi saat acara pawai ogoh-ogoh berlangsung di Lapangan Desa Sibang Kaja saat puncak perayaan pergantian tahun baru caka 1945, belum lama ini.

Dikonfirmasi Jumat (24/3/2023), Ketua ST Karma Prasetya, Aditya Bahari mengatakan, tema yang diangkat adalah “Tawur Eka Dasa Rudra” dengan mengambil ide cerita dalam Purana Tatwa Dalem Sida Karya. Menurutnya pesan dari tema yang diangkat untuk mengingatkan arti keseimbangan alam semesta beserta isinya.

Dijelaskannya, rangkuman cerita tersebut, suatu ketika saat Brahmana Keling sedang menikmati pemandangan selat Bali, ayahnya menghampirinya dan menyampaikan bahwa Keraton Gelgel Klungkung dipimpimpin oleh Dalem Waturenggong. Setelah mendengar informasi tersebut, Brahmana Keling bergegas pergi ke Bali.

Sesampainya Brahmana Keling di Keraton Gelgel, ia langsung menuju Pura Besakih karena ingin bertemu dengan saudaranya, Dalem Waturenggong. Para pengayah yang ada di Besakih ragu atas kedatangan Brahmana Keling. Namun, penampilannya yang lusuh dan kotor ia diusir.

Sakit hati dengan perbuatan saudaranya, Brahmana Keling mengutuk karya yang dilaksanakan tan Sidakarya (tidak sukses), bumi kekeringan, rakyat kelaparan, sarwa gumatat-gumitit ngrubeda.

Tak lama setelah kejadian tersebut, Pulau Bali terserang wabah dan bencana. Menyadari hal itu, Dalem Waturenggong bersemedi di Pura Besakih dan mengakui kesalahan karena telah mengusir saudaranya sendiri.

Kemudian Dalem Waturenggong memerintahkan untuk mencari Brahmana Keling agar kembali ke Besakih dan mencabut kutukannya dengan mengadakan Tawur Eka Dasa Rudra (Pemujaan Terhadap 11 Kala Rudra, yang menguasai Bhuta Kala di setiap arah penjuru angin).

Tujuan ritual ini memohon keseimbangan jagat untuk menjauhkan manusia dari bencana dan memberikan kesejahteraan.

Setelah tragedi tersebut usai, Dalem Waturenggong bersabda di hadapan para menteri/patih Pre Arya, Dang Hyang Nirarta dan Dalem Sidakarya. Dalem Waturenggong Mengucap “Mulai Saat Ini Dan Selanjutnya, Setiap Umat Hindu Yang Melaksanakan Upacara Yadnya Wajib Nunas Tirta Penyida Karya, Supaya Karya (Upacara Yadnya) Menjadi Sidakarya”.

Selain itu diharapkan dengan digelarnya upacara tersebut, setiap sesama manusia harus saling menghormati, terlepas dari busana maupun penampilan yang ditampilkan, memperlakukan orang lain tidak memandang dari penampilanya, tidak menilai orang lain hanya karena terlihat dari luar, sebab setiap manusia tidak akan pernah mengetahui isi hati seseorang, dan hanya bisa menebaknya entah tebakannya benar ataupun bisa saja salah.

Ide Cerita; I GNA. Sasmitra Wiguna,

Sebagai penata tari; I Gusti Ngurah Lanang Putra Wibawa, Penata Tabuh; I Made Suradipa, Dalang; Ida Bagus Gede Karang Yuda Wiweka. (van)